( Copy from : "Chicken Soup For the Teenage Soul" Book )
Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kamu hormati atau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Chandra, seseorang yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalam surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah tingkat tiga, aku menerima telepon dari ayahku yang memberitakan bahwa Chandra masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke. Namun hasil test memastikan bahwa penyakit yang dideritanya lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang menyebabkannya lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Aku ingat aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi? Sehari sebelumnya Chandra baik-baik saja. Sekarang, hidupnya akan berakhir pada usia yang begitu muda.
Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, dan memutuskan bahwa Chandra membutuhkan harapan dan semangat. Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Chandra. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif. Aku bahkan memasang poster di pintu kamar rumah sakitnya yang bertuliskan "Kalau kamu memiliki pikiran negatif, tinggalkanlah pikiran itu di pintu." Aku sudah bulat hati untuk membantu Chandra mengalahkan tumor itu. Kami berdua membuat perjanjian yang disebut 50-50. Aku akan berjuang 50% dan Chandra akan memperjuangkan 50% sisanya.
Bulan September tiba dan kuliah tingkat tiga akan dimulai di universitas yang jaraknya 3000 mil dari rumah. Aku bingung, apakah aku harus pergi atau tetap menemani Chandra. Aku salah bicara, aku menyebutkan bahwa aku mungkin tidak akan pergi kuliah. Ia menjadi marah dan menyuruhku untuk tidak khawatir karena dia akan baik-baik saja. Aku sadar kalau aku tetap bersamanya, aku mungkin akan menyiratkan bahwa dia sedang sekarat dan aku tidak mau dia berpikir seperti itu. Chandra harus yakin bahwa dia dapat menang melawan tumor itu.
Kepergianku malam itu, merasakan bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Chandra dalam keadaan hidup, adalah hal tersulit yang pernah kulakukan. Selama kuliah, aku tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagianku untunya. Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Chandra, berharap ia dapat mendengarkanku. Aku berkata, "Chandra, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak kan pernah menyerah. Asalkan kamu juga tidak berhenti berjuang kita dapat mengalahkan tumor ini.
Sampai bulan Oktober, Chandra masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan seorang teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Chandra. Aku bercerita bahwa keadaannya makin memburuk, tapi dia tidak menyerah. Temanku melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Katanya. " Menurutmu, apakah ia bertahan itu karena ia tidak ingin mengecewakanmu?"
Mungkinkah perkataannya benar? Mungkinkah aku egois, menyemangati Chandra untuk terus berjuang? Malam itu sebelum tidur aku berbicara ditelepon dengan Chandra "Adikku, aku mengerti kamu sangat menderita dan mungkin kamu ingin menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak kalah karena kamu tak pernah berhenti berjuang. Kalau kamu ingin pergi ke tempat yang lebih baik, aku mengerti. Kita pasti bersama lagi. Aku sengat menyayangimu dan aku akan terus bersamamu dimana pun kamu berada."
Keesokan paginya, Ibuku menelepon dan memberi tahu bahwa Chandra telah meninggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar